Belajar Mengelola Emosi Lewat Buku Never Get Angry Again
Tim BacaApps25 October 2026 5 min read

Pernahkah kamu merasa sangat marah hanya karena hal sepele, seperti saat ada orang yang memotong jalanmu di jalan raya atau saat seseorang mengabaikan perkataanmu? Setelah emosi itu reda, biasanya muncul rasa menyesal karena kita telah meledak kepada orang terdekat. Jika kamu sering mengalami hal ini, buku Never Get Angry Again karya David J. Lieberman bisa memberikan perspektif baru yang sangat kamu butuhkan.
Dalam buku ini, Lieberman menjelaskan bahwa kemarahan bukanlah sifat bawaan yang tidak bisa diubah, melainkan sebuah tanda bahwa ada sesuatu yang belum beres di dalam diri kita. Alih-alih hanya mencoba meredam gejalanya, buku ini mengajak kamu untuk menggali akar masalahnya agar kamu bisa hidup dengan lebih jernih dan tenang.
Memahami Akar Kemarahan yang Sebenarnya
Banyak orang mengira kemarahan muncul murni karena kesalahan orang lain. Namun, Lieberman menunjukkan bahwa kemarahan sebenarnya bersumber dari ego yang rapuh, sudut pandang yang sempit, dan rasa percaya diri yang rendah. Saat rasa percaya diri kita sedang goyah, kita cenderung merasa perlu membela diri secara berlebihan terhadap hal-hal kecil.
Salah satu mekanisme yang paling sering terjadi adalah bagaimana ego memutarbalikkan kenyataan untuk melindungi citra diri kita. Lieberman menyebut fenomena ini sebagai disonansi kognitif (cognitive dissonance), yaitu ketegangan batin saat tindakan kita berbenturan dengan nilai yang kita yakini. Demi menghindari rasa malu atau rasa bersalah, ego akan mencari seribu alasan pembenaran agar kita tidak merasa salah.
Contohnya, saat seseorang menegur kesalahanmu, egomu mungkin merasa tersudut dan terancam. Bukannya mendengarkan dengan baik, kamu justru membalas dengan nada tinggi untuk menutupi rasa malu tersebut. Di sini, kemarahan berfungsi sebagai cara ego untuk menolak kenyataan yang terasa menyakitkan bagi harga dirimu.
Peran Jiwa, Ego, dan Tubuh dalam Emosi
Untuk memahami mengapa kita sering merasa tidak tenang, Lieberman membagi diri manusia ke dalam tiga bagian utama: jiwa (soul), ego, dan tubuh. Ketiganya memiliki dorongan yang berbeda, dan konflik batin sering terjadi ketika kita salah memberikan kendali atas hidup kita.
- Tubuh selalu mencari kenyamanan fisik dan kesenangan sesaat.
- Ego selalu sibuk menjaga citra diri semu dan menuntut pengakuan dari orang lain.
- Jiwa adalah bagian yang mendorong kita untuk berbuat benar, memikul tanggung jawab, dan mencari makna hidup.
Konflik emosional muncul ketika kita menyerahkan kemudi hidup kepada ego atau tubuh. Misalnya, mengejar pujian atau menumpuk materi adalah upaya ego untuk menambal rasa kurang di dalam diri. Namun, Lieberman menekankan sebuah hukum batin yang penting: kekurangan di dalam tidak akan pernah bisa dipuaskan dengan sesuatu dari luar. Rasa hampa hanya bisa diisi melalui hubungan yang sehat dengan jiwamu sendiri, yaitu dengan memilih tindakan yang bertanggung jawab dan bermakna.
Mengapa Kemarahan Membuat Kita Sulit Berpikir
Secara biologis, kemarahan sebenarnya bisa membuat kita menjadi "bodoh". Saat kamu merasa terancam atau tersinggung, tubuh akan melepaskan hormon kortisol dan adrenalin ke dalam aliran darah. Kondisi ini memicu respons fight-or-flight (lawan atau kabur), di mana otak dipersiapkan untuk bertarung secara fisik, bukan untuk berpikir jernih atau menimbang sebab dan akibat.
Karena fokus otak teralih pada pertahanan diri, kemampuan kita untuk melihat masalah secara objektif menjadi sangat berkurang. Itulah sebabnya dalam kondisi marah, kita sering kali mengambil keputusan yang buruk atau mengeluarkan kata-kata yang nantinya kita sesali.
Lieberman menyarankan agar kita melatih kemampuan untuk menunda kepuasan sesaat. Hal ini serupa dengan Eksperimen Marshmallow dari Stanford University, di mana anak-anak yang mampu menahan diri untuk tidak langsung memakan makanan manis terbukti tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan memiliki harga diri yang lebih tinggi. Dengan melatih pengendalian diri, kamu sedang membangun kemampuan untuk tetap menggunakan akal sehat bahkan saat emosi mulai naik.
Cara Memutus Siklus Amarah Secara Praktis
Kabar baiknya, kamu bisa memutus siklus amarah sebelum ia menguasai dirimu. Lieberman memberikan beberapa langkah praktis yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
- Gunakan teknik fisik: Kamu bisa mencoba power pose atau pose kekuatan, seperti berdiri tegak dengan tangan di pinggul selama dua menit. Latihan ini terbukti dapat meningkatkan hormon testosteron dan menurunkan hormon stres kortisol, sehingga tubuhmu lebih siap untuk berpikir tenang.
- Manfaatkan aturan 90 detik: Gelombang zat kimia kemarahan dalam darah sebenarnya hanya bertahan sekitar 90 detik. Jika kamu bisa mengatur napas, merilekskan otot rahang dan bahu, serta melakukan dialog batin yang jujur, kamu bisa menghentikan ledakan emosi tersebut.
- Lakukan dialog batin yang jujur: Jangan hanya menggunakan kata-kata penenang yang dibuat-buat. Akui pada dirimu sendiri bahwa egomu mungkin sedang merasa terpojok atau takut. Dengan mengakui perasaan tersebut, kamu bisa kembali berpikir jernih tentang apa yang sebenarnya bisa kamu kendalikan.
Membangun Ketenangan Melalui Perubahan Sudut Pandang
Ketenangan jangka panjang hanya bisa dicapai jika kamu mengubah cara pandangmu terhadap dunia dan diri sendiri. Salah satu langkah terpenting adalah belajar memaafkan. Perlu diingat bahwa memaafkan bukanlah hadiah bagi orang yang bersalah, melainkan keputusan pribadi untuk melepaskan peran sebagai korban agar beban emosi masa lalu tidak lagi merusak hidupmu.
Selain itu, kamu perlu belajar menerima kenyataan yang berada di luar kendalimu. Kita sering marah karena ingin mengatur hal-hal yang tidak bisa diatur, seperti sikap orang lain atau situasi di jalan raya. Fokuslah pada hal-hal yang benar-benar bisa kamu atur, yaitu tindakan dan responmu sendiri.
Terakhir, manfaatkan kemampuan neuroplasticity atau neuroplastisitas otakmu. Otak manusia mampu membentuk jalur saraf baru melalui latihan yang konsisten. Dengan membiasakan diri merespons masalah menggunakan empati dan rasa syukur, sirkuit ketenangan di otakmu akan semakin kuat seiring berjalannya waktu.
Ingin tahu lebih dalam bagaimana cara melatih otak agar tetap tenang dan menghadapi konflik tanpa kehilangan kendali? Kamu bisa mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan langkah-langkah praktis lainnya dengan membaca ringkasan lengkap buku Never Get Angry Again di aplikasi BacaApps. Mari mulai perjalananmu menuju ketenangan batin sekarang juga!
Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: Never Get Angry Again karya David J. Lieberman
