All posts

Who Wants to Be an Irrational Investor: Kenali Jebakan Emosimu

Tim BacaApps12 October 2026 3 min read

Who Wants to Be an Irrational Investor: Kenali Jebakan Emosimu

Who Wants to Be an Irrational Investor karya Lukas Setia Atmaja membongkar satu kenyataan yang jarang kita akui: dalam urusan uang, manusia jarang bersikap rasional. Buku ini mengulas jebakan psikologis yang membuat investor mengambil keputusan keliru di pasar modal, dengan penjelasan keuangan perilaku yang lugas dan dekat dengan keseharian.

Kalau kamu baru mulai berinvestasi saham atau sering menyesal setelah bertransaksi, pelajaran berikut bisa membantumu lebih tenang dan disiplin.

Investor bukan mesin hitung

Teori keuangan klasik sering membayangkan investor sebagai sosok yang selalu menghitung untung rugi dengan dingin. Kenyataannya, keputusan investasi banyak dipengaruhi emosi, kebiasaan, dan cara kita memandang diri sendiri.

Lukas Setia Atmaja mengajak pembaca mengenali kelemahan berpikir itu lebih dulu. Mengakui bahwa kita bisa irasional adalah langkah awal untuk mengendalikannya.

Cabang ilmu yang membahas hal ini disebut keuangan perilaku, yaitu perpaduan antara psikologi dan keuangan. Lewat sudut pandang ini, kesalahan investor tidak dianggap sekadar nasib buruk, melainkan pola yang bisa dikenali dan diwaspadai.

Takut rugi dan terlalu percaya diri

Dua bias yang dibahas dalam buku ini adalah keengganan rugi (loss aversion) dan rasa terlalu percaya diri (overconfidence). Keengganan rugi membuat kita merasa sangat berat menerima kerugian, sehingga sering menahan saham yang terus turun sambil berharap harganya kembali.

Sementara itu, rasa terlalu percaya diri membuat kita merasa lebih pintar dari pasar. Setelah beberapa kali untung, kita mudah merasa jago, lalu bertransaksi terlalu sering atau menaruh modal terlalu besar di satu saham. Kedua bias ini sama-sama bisa mengacaukan portofolio.

Coba periksa kebiasaanmu sendiri. Apakah kamu cepat menjual saham yang baru naik sedikit karena takut untungnya hilang, tetapi bertahan lama dengan saham yang terus merugi karena enggan mengakui kesalahan? Kalau ya, kamu tidak sendirian. Menyadarinya adalah langkah pertama untuk berubah.

Panik dan euforia kerumunan

Pasar saham penuh dengan suasana hati bersama. Saat harga melonjak, banyak orang ikut membeli karena takut ketinggalan. Saat harga anjlok, kepanikan menyebar dan orang beramai-ramai menjual.

Kebiasaan mengekor kerumunan ini berbahaya karena membuat kita membeli saat mahal dan menjual saat murah. Contohnya mudah ditemukan: sebuah saham ramai dibicarakan di grup percakapan atau media sosial, lalu banyak orang membelinya tanpa memahami bisnis perusahaannya. Buku ini membantumu mengelola emosi agar tidak mudah terseret arus seperti itu.

Salah satu cara menahan diri adalah memberi jeda sebelum bertransaksi. Saat merasa sangat ingin membeli atau menjual karena keramaian, tunda keputusan sejenak, lalu periksa kembali alasanmu. Kalau alasannya hanya karena orang lain melakukannya, itu tanda kamu sedang terseret kerumunan.

Rencana tertulis sebagai pagar pengaman

Cara paling praktis untuk melawan bias adalah membuat aturan sebelum emosi mengambil alih. Buku ini menekankan pentingnya menyusun rencana investasi tertulis dan batasan risiko yang disiplin.

Beberapa hal yang bisa kamu tuliskan dalam rencanamu:

  • Tujuan investasi dan jangka waktunya.
  • Alasan membeli sebuah saham, supaya kamu tahu kapan alasan itu sudah tidak berlaku.
  • Batas kerugian yang masih bisa kamu terima.
  • Porsi maksimal modal untuk satu saham.

Dengan rencana tertulis, keputusanmu saat pasar bergejolak tidak lagi bergantung pada suasana hati, melainkan pada aturan yang sudah kamu buat dalam keadaan tenang.

Rencana itu juga perlu ditinjau secara berkala, misalnya setiap beberapa bulan, bukan setiap kali harga bergerak. Dengan begitu, kamu tetap bisa menyesuaikan strategi tanpa terjebak keputusan impulsif.

Disiplin juga berarti hanya berinvestasi dengan uang yang tidak kamu butuhkan dalam waktu dekat, sehingga kamu tidak terpaksa menjual di saat yang salah.

Bertumbuh sehat dalam jangka panjang

Who Wants to Be an Irrational Investor mengingatkan bahwa musuh terbesar investor sering kali bukan pasar, melainkan dirinya sendiri. Dengan disiplin dan kendali emosi, modalmu punya peluang lebih baik untuk bertumbuh secara sehat dalam jangka panjang.

Kalau kamu ingin mengenali lebih banyak jebakan psikologis dalam berinvestasi, baca ringkasan lengkap “Who Wants to Be an Irrational Investor” di aplikasi BacaApps.

Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: Who Wants to Be an Irrational Investor karya Lukas Setia Atmaja

Who Wants to Be an Irrational Investor

The book in this post

Lukas Setia Atmaja

"Who Wants to Be an Irrational Investor" oleh Lukas Setia Atmaja membongkar berbagai jebakan psikologis yang kerap membuat investor mengambil keputusan keliru di pasar modal. Berangkat dari kenyataan bahwa manusia jarang bersikap rasional dalam mengelola uang, buku ini mengulas bagaimana emosi, rasa percaya diri berlebih, dan kebiasaan mengekor kerumunan dapat merusak portofolio investasi. Melalui penjelasan konsep keuangan perilaku yang lugas dan dekat dengan keseharian, kamu diajak mengenali kelemahan berpikir diri sendiri saat bertransaksi saham. Buku ini membantumu membangun disiplin, mengendalikan emosi sesaat, dan menyusun rencana keuangan yang terukur agar modalmu tetap bertumbuh secara sehat dalam jangka panjang.

Read the summary