The Road Less Traveled: Hidup Itu Sulit, dan Itu Justru Baik
Tim BacaApps12 October 2026 3 min read

Pernahkah kamu menunda pekerjaan yang tidak menyenangkan, berharap ia beres sendiri, lalu justru terasa makin berat? The Road Less Traveled karya M. Scott Peck membahas pola ini dengan jujur. Peck, seorang psikiater, menulis buku ini dari pengalamannya mendampingi pasien, dan melihat bahwa banyak penderitaan berasal dari cara kita menghindari masalah.
Buku ini dibuka dengan kalimat yang terdengar suram, “Hidup itu sulit”. Namun, menerima kenyataan itu justru langkah pertama untuk merasa lebih ringan. Berikut pelajaran utamanya.
Menerima bahwa hidup itu sulit
Banyak orang menjalani hidup seolah kesulitan adalah sesuatu yang tidak adil dan seharusnya tidak terjadi. Akibatnya, setiap masalah terasa seperti hukuman. Peck menawarkan cara pandang lain: begitu kita benar-benar menerima bahwa hidup itu sulit, kesulitan tidak lagi terasa seberat sebelumnya.
Menurut Peck, masalah adalah jalan pertumbuhan. Rasa sakit saat menghadapinya memang tidak enak, tetapi melalui proses itulah kita tumbuh secara mental dan spiritual. Menghindari, menunda, atau menyalahkan keadaan hanya membuat penderitaan bertahan lebih lama.
Coba pikirkan masalah yang sedang kamu tunda, entah tagihan yang belum dibayar, percakapan sulit dengan keluarga, atau tugas kantor yang menumpuk. Biasanya, beban pikiran karena menghindarinya lebih berat daripada mengerjakannya.
Empat alat disiplin
Untuk menghadapi masalah, Peck menawarkan disiplin, yang ia uraikan menjadi empat alat:
- Menunda kepuasan. Menghadapi bagian yang tidak menyenangkan lebih dulu agar kesenangan bisa dinikmati sesudahnya, misalnya mengerjakan bagian tersulit pekerjaan di pagi hari.
- Menerima tanggung jawab. Mengakui bahwa sebuah masalah adalah milik kita, alih-alih menyalahkan orang lain atau keadaan.
- Setia pada kenyataan. Terus memperbarui cara pandang kita tentang dunia agar sesuai dengan kenyataan, meski itu tidak nyaman.
- Menyeimbangkan. Menimbang kebutuhan yang saling bertentangan, termasuk berani melepaskan hal-hal yang sudah tidak lagi berguna.
Contohnya, seseorang yang selalu merasa gagal karena atasannya buruk mungkin benar sebagian. Namun, selama ia hanya menyalahkan atasan, ia tidak akan mencari langkah yang bisa ia ambil sendiri, seperti memperbaiki cara berkomunikasi atau mencari tempat kerja lain.
Keempat alat ini mudah dipahami, tetapi butuh latihan seumur hidup untuk dijalankan.
Peck juga melihat bahwa kesediaan untuk berdisiplin tumbuh dari perasaan bahwa diri kita berharga. Orang yang merasa dirinya berharga akan mau merawat dirinya, termasuk dengan menghadapi masalah alih-alih lari darinya.
Jatuh cinta bukan cinta sejati
Bagian kedua buku ini membahas cinta, yang menurut Peck bukan sekadar perasaan. Ia membedakan beberapa hal yang sering tertukar dengan cinta.
Jatuh cinta adalah perasaan kuat yang datang dengan sendirinya dan, cepat atau lambat, akan memudar. Ketergantungan, yaitu merasa tidak bisa hidup tanpa orang lain, juga bukan cinta. Keduanya lebih banyak berpusat pada kebutuhan diri sendiri.
Bagi Peck, cinta sejati adalah kehendak untuk memperluas diri demi mendukung pertumbuhan spiritual diri sendiri maupun orang lain. Artinya, cinta adalah pilihan dan tindakan, bukan hanya rasa.
Pandangan ini menenangkan sekaligus menantang. Menenangkan, karena memudarnya rasa berdebar bukan berarti hubungan sudah gagal. Menantang, karena sejak saat itulah cinta yang sesungguhnya perlu dikerjakan.
Cinta diwujudkan lewat perhatian, kerja, dan keberanian
Kalau cinta adalah tindakan, bentuknya bisa dilihat dalam keseharian. Cinta tampak dari perhatian yang tulus, misalnya benar-benar mendengarkan pasangan, anak, atau sahabat tanpa sibuk dengan ponsel.
Cinta juga membutuhkan kerja, karena mendukung pertumbuhan orang lain sering melelahkan. Selain itu, cinta menuntut keberanian, termasuk berani menegur dengan jujur ketika orang yang kita sayangi keliru, atau berani membiarkan mereka tumbuh dengan cara mereka sendiri.
Pandangan dunia, rasa bersalah, dan anugerah
Bagian akhir buku membahas pertumbuhan spiritual. Peck melihat bahwa setiap orang punya pandangan dunia, disadari atau tidak, yang perlu terus diuji dan diperluas sepanjang hidup.
Ia juga membahas rasa bersalah dan berbagai hal yang menghambat pertumbuhan batin. Di sisi lain, ada anugerah (grace), kekuatan misterius yang menurut Peck ikut menolong manusia tumbuh, sering kali dengan cara yang tidak kita duga.
Bagian ini mengajak pembaca melihat pertumbuhan diri bukan hanya sebagai hasil usaha keras, tetapi juga sebagai sesuatu yang bisa diterima dengan rendah hati.
Memilih jalan yang jarang dilalui
The Road Less Traveled mengajakmu berhenti lari dari kesulitan dan melihatnya sebagai jalan untuk menjadi pribadi yang lebih utuh. Untuk menelusuri gagasan M. Scott Peck tentang disiplin, cinta, dan anugerah secara lengkap, baca ringkasan lengkap “The Road Less Traveled” di aplikasi BacaApps.
Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: The Road Less Traveled karya M. Scott Peck
