All posts

The Hundred Years' War on Palestine: Membaca Ulang Akar Konflik

Tim BacaApps12 October 2026 4 min read

The Hundred Years' War on Palestine: Membaca Ulang Akar Konflik

Konflik Palestina sering diberitakan sebagai pertikaian lama antara dua bangsa yang setara. Dalam The Hundred Years' War on Palestine, sejarawan Rashid Khalidi menawarkan cara baca yang berbeda. Ia memandang apa yang terjadi selama satu abad terakhir sebagai perang kolonial pemukim yang didukung oleh kekuatan-kekuatan besar dunia.

Artikel ini merangkum pelajaran utama dari buku tersebut. Tujuannya sederhana: membantumu memahami akar persoalan secara lebih utuh, bukan hanya dari potongan berita yang lewat di layar ponsel.

Sejarah yang ditulis dari arsip dan dari rumah sendiri

Yang membuat buku ini terasa lain adalah cara penulisannya. Khalidi memadukan dokumen arsip resmi dengan catatan pribadi keluarganya, keluarga yang menetap di Yerusalem selama ratusan tahun.

Perpaduan ini memberi dua lapis pemahaman sekaligus. Arsip menunjukkan keputusan apa yang diambil di ruang-ruang kekuasaan. Kisah keluarga memperlihatkan bagaimana keputusan itu terasa bagi orang yang hidup di tanah tersebut.

Pelajarannya berlaku luas. Kalau kamu ingin memahami peristiwa besar, dengarkan juga suara orang yang mengalaminya langsung. Sejarah yang hanya ditulis dari satu sisi mudah terasa lengkap, padahal belum.

Bukan sekadar konflik agama atau sengketa etnis

Khalidi menolak anggapan bahwa yang terjadi di Palestina hanyalah masalah agama atau sengketa etnis biasa. Menurutnya, pola yang lebih tepat adalah kolonialisme pemukim: kelompok pendatang yang, dengan dukungan kekuatan besar, berupaya menggantikan kedudukan penduduk asli.

Cara membingkai ini penting karena memengaruhi cara kita menilai jalan keluarnya. Jika konflik dianggap pertengkaran dua pihak yang setara, ketimpangan kekuatan di antara keduanya mudah terlewatkan. Khalidi mengajak pembaca melihat ketimpangan itu secara terbuka.

Kamu tidak harus langsung setuju dengan setiap kesimpulannya. Namun, memahami kerangka berpikir ini membantumu melihat mengapa banyak warga Palestina memandang pengalaman mereka sebagai penjajahan, bukan sekadar perselisihan tetangga.

Enam titik balik dalam satu abad

Buku ini disusun di sekitar enam peristiwa penting. Khalidi membacanya sebagai rangkaian titik balik yang, satu demi satu, mengikis kedaulatan penduduk asli. Beberapa di antaranya:

  • Deklarasi Balfour tahun 1917, ketika Inggris menyatakan dukungan bagi pendirian tanah air nasional Yahudi di Palestina, tanah yang sudah berpenghuni.
  • Perlawanan pada tahun 1930-an, saat penduduk Palestina bangkit melawan kebijakan mandat Inggris.
  • Tragedi pengusiran tahun 1948, yang membuat banyak warga Palestina kehilangan rumah dan kampung halamannya.
  • Perundingan Oslo, yang awalnya disambut sebagai jalan damai, tetapi menurut Khalidi gagal menghadirkan kedaulatan yang sesungguhnya.

Dengan melihat rangkaian ini, kamu akan sadar bahwa krisis hari ini tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keputusan-keputusan yang menumpuk selama puluhan tahun, dan setiap titik balik membatasi pilihan yang tersedia pada masa berikutnya.

Cara membaca sejarah seperti ini juga berguna di luar isu Palestina. Saat menghadapi masalah yang tampak rumit, entah konflik di kantor atau persoalan di lingkunganmu, coba telusuri rangkaian keputusan yang membentuknya. Sering kali, akar masalah terletak jauh sebelum gejalanya terlihat.

Peran negara adidaya dan kelemahan diplomasi

Salah satu pelajaran paling tajam dari buku ini menyangkut pihak luar. Khalidi menunjukkan bahwa sepanjang abad itu, kekuatan besar dunia ikut mengatur arah konflik, dari Inggris pada masa awal hingga Amerika Serikat pada masa berikutnya.

Namun ia tidak menutup mata pada kelemahan di pihak sendiri. Khalidi juga mengkritik diplomasi para pemimpin Arab, termasuk kepemimpinan Palestina, yang menurutnya ikut mempercepat tersingkirnya hak politik penduduk asli.

Sikap ini memberi contoh berpikir yang sehat. Menyadari ketidakadilan dari luar tidak berarti berhenti mengevaluasi diri sendiri. Keduanya bisa, dan perlu, dilakukan bersamaan.

Meluruskan mitos dan menegakkan kesetaraan hak

Buku ini juga berusaha meluruskan berbagai mitos politik yang sering beredar di media massa. Banyak dari kita mengenal konflik ini hanya dari judul berita, potongan video, atau debat panas di media sosial.

Membaca sejarah yang runtut membantumu memeriksa ulang asumsi yang selama ini kamu pegang. Sebelum ikut membagikan sebuah unggahan tentang Palestina di grup keluarga, misalnya, kamu bisa bertanya: dari mana klaim ini berasal, dan bagaimana konteks sejarahnya?

Kebiasaan sederhana ini tidak hanya berguna untuk isu Palestina. Ia melatihmu menjadi pembaca berita yang lebih kritis untuk isu apa pun, dan membuatmu lebih berhati-hati sebelum ikut menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.

Di bagian akhir, pesan Khalidi cukup jelas. Perdamaian yang adil tidak bisa dibangun di atas sejarah yang ditutupi. Ia hanya mungkin tercapai lewat pengakuan yang jujur atas apa yang terjadi, serta penegakan kesetaraan hak bagi kedua bangsa. Tanpa itu, kesepakatan apa pun berisiko hanya menunda konflik berikutnya.

Baca kisah lengkapnya

The Hundred Years' War on Palestine bukan bacaan ringan, tetapi ia membantumu memahami berita hari ini dengan kepala yang lebih jernih. Ingin menelusuri keenam titik balik itu lebih dalam, lengkap dengan kisah keluarga Khalidi di Yerusalem? Baca ringkasan lengkap The Hundred Years' War on Palestine di aplikasi BacaApps.

Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: The Hundred Years' War on Palestine karya Rashid Khalidi

The Hundred Years' War on Palestine

The book in this post

Rashid Khalidi

"The Hundred Years' War on Palestine" oleh Rashid Khalidi adalah telaah sejarah mendalam yang membongkar akar konflik di Timur Tengah bukan sekadar sebagai sengketa etnis biasa, melainkan sebagai perang kolonial pemukim yang didukung oleh kekuatan negara adidaya. Melalui perpaduan dokumen arsip resmi dan catatan pribadi keluarganya di Yerusalem, sejarawan ini menelusuri enam titik balik krusial yang mengikis kedaulatan penduduk asli. Buku ini sangat berharga karena membantumu memahami asal-usul krisis secara utuh, meluruskan berbagai mitos politik yang sering beredar di media massa, dan menunjukkan pentingnya prinsip kesetaraan hak sebagai landasan utama bagi perdamaian yang sejati.

Read the summary