All posts

The Courage to Be Disliked: Berani Bebas dari Penilaian Orang Lain

Tim BacaApps12 October 2026 4 min read

The Courage to Be Disliked: Berani Bebas dari Penilaian Orang Lain

Pernahkah kamu merasa hidupmu diatur oleh pendapat orang lain? Atau merasa terkunci oleh luka masa lalu? Buku The Courage to Be Disliked karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga menawarkan cara pandang yang menantang sekaligus membebaskan: kamu bisa berubah dan bahagia mulai hari ini.

Buku ini ditulis sebagai dialog antara seorang filsuf dan pemuda yang skeptis, berlandaskan psikologi Alfred Adler. Berikut pelajaran utama yang bisa kamu petik.

Masa lalu tidak menentukan hidupmu sekarang

Banyak dari kita terbiasa berpikir bahwa kita seperti sekarang karena masa lalu. Karena pernah gagal, kita jadi penakut. Karena dibesarkan dengan keras, kita jadi pemalu.

Adler, lewat sang filsuf, membalik cara pandang ini. Yang menggerakkan kita bukan penyebab di masa lalu, melainkan tujuan yang kita pilih saat ini. Seseorang yang menghindari pergaulan mungkin sebenarnya sedang memilih tujuan agar tidak terluka, lalu memakai masa lalunya sebagai alasan.

Gagasan ini terasa keras, tetapi justru memberi harapan. Kalau perilakumu ditentukan oleh tujuan, kamu bisa mengubahnya dengan memilih tujuan yang berbeda.

Buku ini juga membedakan perasaan rendah diri dari kompleks rendah diri. Merasa kurang dibandingkan orang lain itu wajar dan bisa mendorong kita bertumbuh. Masalah muncul ketika perasaan itu dijadikan alasan untuk tidak mencoba, misalnya dengan berkata, aku tidak bisa karena aku tidak pintar.

Pisahkan tugasmu dari tugas orang lain

Inilah konsep yang paling terkenal dari buku ini: pemisahan tugas. Caranya, tanyakan pada diri sendiri, siapa yang akhirnya menanggung akibat dari pilihan ini?

Apakah atasan menyukai hasil kerjamu, itu tugas atasan. Tugasmu adalah bekerja sebaik mungkin. Apakah keluarga besar setuju dengan jurusan kuliah atau pasangan pilihanmu, itu tugas mereka. Menjalani pilihan itu dengan sungguh-sungguh adalah tugasmu.

Banyak kecemasan muncul karena kita ikut campur dalam tugas orang lain, atau membiarkan orang lain masuk ke tugas kita. Begitu batasnya jelas, beban di pundak terasa jauh lebih ringan.

Pemisahan tugas bukan berarti tidak peduli. Kamu tetap bisa menawarkan bantuan kepada orang lain. Yang perlu dihindari adalah memaksakan kehendak atau mengambil alih keputusan yang bukan milikmu. Seperti pepatah yang dipakai dalam buku ini, kamu bisa menuntun kuda ke air, tetapi tidak bisa memaksanya minum.

Berani tidak disukai adalah harga kebebasan

Judul buku ini bukan ajakan untuk menyebalkan. Maksudnya, kalau kamu ingin hidup dengan jujur, akan selalu ada orang yang tidak menyukaimu. Itu wajar.

Hidup demi memenuhi harapan semua orang berarti menjalani hidup milik orang lain. Kebebasan sejati menuntut keberanian untuk menerima bahwa tidak semua orang akan setuju denganmu.

Hubungan yang setara, bukan atas-bawah

Buku ini menyebut bahwa banyak persoalan hidup bermuara pada hubungan dengan orang lain. Salah satu sumbernya adalah cara kita memandang hubungan secara vertikal, seolah selalu ada yang lebih tinggi dan lebih rendah.

Cara pandang vertikal juga membuat kita gemar membandingkan diri. Sang filsuf mengajak melihat hidup bukan sebagai perlombaan melawan orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi lebih baik dari dirimu yang kemarin.

Karena itu, sang filsuf menyarankan hubungan yang horizontal. Ia bahkan mengingatkan bahwa pujian dan teguran sama-sama bisa menempatkan orang di posisi lebih rendah. Sebagai gantinya, ucapkan terima kasih dan tunjukkan penghargaan atas kontribusi seseorang.

  • Daripada berkata pada adik atau anak, kamu pintar sekali, coba katakan, terima kasih sudah membantu.
  • Di kantor, akui sumbangan rekan kerja tanpa nada menggurui.

Penerimaan diri dan kontribusi sebagai jalan bahagia

Lalu dari mana kebahagiaan datang? Buku ini menawarkan tiga pijakan yang saling terkait:

  1. Penerimaan diri: menerima dirimu apa adanya, termasuk hal yang tidak bisa diubah, lalu fokus pada apa yang bisa kamu ubah.
  2. Kepercayaan pada orang lain: memandang orang lain sebagai rekan, bukan musuh yang harus dikalahkan.
  3. Kontribusi: merasa berguna bagi sesama, tanpa menunggu pengakuan.

Ketika kamu merasa berguna, kamu tidak lagi butuh validasi terus-menerus. Perasaan itu sudah cukup untuk membuatmu merasa berharga.

Hidup sepenuhnya di saat ini

Buku ini juga mengajakmu berhenti memandang hidup sebagai garis panjang menuju satu tujuan besar di masa depan. Hidup lebih mirip rangkaian momen yang dijalani dengan sungguh-sungguh.

Kalau kamu fokus pada apa yang bisa kamu lakukan hari ini, kecemasan tentang masa lalu dan masa depan pelan-pelan kehilangan cengkeramannya.

Mulai dari satu keberanian kecil

Kamu tidak perlu mengubah segalanya sekaligus. Mulailah dengan bertanya, ini tugas siapa, setiap kali kamu merasa tertekan oleh pendapat orang lain. Dialog lengkap antara sang filsuf dan pemuda menyimpan lebih banyak pemikiran yang layak direnungkan. Baca ringkasan lengkap The Courage to Be Disliked di aplikasi BacaApps dan temukan keberanianmu sendiri.

Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: The Courage to Be Disliked karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

The Courage to Be Disliked

The book in this post

Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

"The Courage to Be Disliked" oleh Ichiro Kishimi & Fumitake Koga adalah panduan psikologi yang ditulis lewat dialog hangat antara seorang filsuf bijak dan pemuda yang penuh rasa ragu. Buku ini membahas akar kecemasan modern yang sering muncul dari keinginan memenuhi ekspektasi orang lain dan rasa terkekang oleh luka masa lalu. Berlandaskan psikologi Alfred Adler, penulis mengajakmu memandang masalah hidup lewat pemisahan tugas dan keberanian menerima diri apa adanya. Dengan membaca buku ini, kamu dapat melepaskan beban penilaian orang lain, berani menjalani hidup secara merdeka, dan menemukan kebahagiaan sejati saat ini juga.

Read the summary