Simpati dan Hakim Batin: Inti The Theory of Moral Sentiments
Tim BacaApps12 October 2026 4 min read

Pernahkah kamu ikut meringis saat melihat orang lain tersandung, padahal bukan kakimu yang terbentur? Dari pengalaman sederhana seperti itulah Adam Smith memulai The Theory of Moral Sentiments, buku filsafat moral yang ia tulis pada tahun 1759.
Jauh sebelum dikenal sebagai bapak ilmu ekonomi, Smith lebih dulu mengamati cara kerja batin manusia dalam pergaulan sehari-hari. Hasilnya adalah pelajaran yang masih terasa segar tentang empati, nurani, dan cara hidup bermasyarakat. Berikut pelajaran utamanya.
Simpati sebagai dasar moral
Simpati lahir dari imajinasi
Menurut Smith, kita tidak bisa merasakan langsung apa yang dirasakan orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah membayangkan diri kita berada di posisi mereka. Dari imajinasi inilah lahir simpati, dorongan alami untuk ikut merasakan suka dan duka sesama.
Ini sebabnya kita ikut senang saat sahabat mengabarkan diterima kerja, atau ikut sedih saat tetangga kehilangan anggota keluarga. Moralitas, bagi Smith, berakar dari kemampuan sederhana ini, bukan dari aturan kaku atau hitungan untung rugi semata.
Smith juga mengamati bahwa kita senang ketika orang lain ikut merasakan apa yang kita rasakan. Itulah sebabnya kita ingin bercerita kepada teman saat sedih atau gembira. Simpati yang timbal balik membuat beban terasa lebih ringan dan kebahagiaan terasa berlipat.
Kepatutan: mencari nada yang pas
Simpati juga membentuk standar kepatutan dalam pergaulan. Kita menilai apakah reaksi seseorang pantas dengan membandingkannya dengan apa yang kita bayangkan akan kita rasakan di posisinya.
Contohnya, marah karena dicurangi terasa wajar. Tetapi marah berlebihan karena pesanan kopi sedikit terlambat terasa tidak pantas. Smith menunjukkan bahwa orang yang matang belajar menyesuaikan kadar emosinya agar orang lain bisa ikut memahaminya. Inilah dasar dari pengendalian diri.
Bagi Smith, pengendalian diri adalah salah satu kebajikan yang paling penting. Orang yang mampu menahan amarah, rasa takut, dan keinginan berlebihan bisa bertindak sesuai nuraninya, bahkan dalam keadaan sulit.
Hakim batin yang tidak memihak
Gagasan paling terkenal dari buku ini adalah penonton yang tidak memihak (impartial spectator). Ketika menilai tindakan sendiri, kita membayangkan seorang pengamat netral yang melihat situasi dengan adil, tanpa kepentingan pribadi.
Hakim batin ini membantu kita keluar dari pembenaran diri. Saat tergoda menyalahkan rekan kerja atas kesalahan tim, coba tanyakan: bagaimana orang netral yang tahu seluruh ceritanya akan menilai sikapku?
Hakim batin ini terbentuk dari pergaulan. Kita belajar menilai diri sendiri karena terbiasa dinilai oleh orang lain, lalu lama-kelamaan standar itu tertanam di dalam diri. Ketika suara orang di sekitar keliru, nurani yang terlatih tetap bisa berpegang pada penilaian yang adil.
Ingin layak dipuji, bukan sekadar dipuji
Smith membedakan dua keinginan: keinginan untuk dipuji dan keinginan untuk benar-benar layak dipuji. Orang yang hanya mengejar pujian mudah terbuai sanjungan semu dan mudah tergoda berpura-pura.
Orang yang ingin layak dipuji akan tetap berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat. Di era media sosial, pembedaan ini terasa sangat relevan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh jumlah tanda suka, melainkan oleh apakah tindakanmu memang patut dihargai.
Smith juga mengingatkan godaan untuk mengagumi orang kaya dan berkuasa secara berlebihan, sambil meremehkan orang yang miskin. Menurutnya, kecenderungan ini bisa merusak perasaan moral kita.
Keadilan sebagai pilar, kebaikan sebagai hiasan
Smith membedakan keadilan dan kebaikan hati. Keadilan adalah pilar yang menopang seluruh bangunan masyarakat. Ia bersifat wajib: jangan mencelakai, jangan mencuri, tepati janji. Tanpa keadilan, masyarakat runtuh.
Kebaikan hati, seperti kedermawanan dan kemurahan, adalah hiasan yang memperindah bangunan itu. Ia tidak bisa dipaksakan, tetapi membuat hidup bersama terasa hangat. Pelajarannya:
- Pastikan dulu kamu tidak merugikan orang lain, misalnya membayar utang tepat waktu.
- Lalu tambahkan kebaikan sukarela, seperti membantu teman yang sedang kesulitan.
Urutan ini masuk akal dalam kerangka Smith: kebaikan hati tidak bisa menggantikan keadilan yang dilanggar.
Merawat nurani di tengah dorongan egois
Buku ini tidak naif. Smith mengakui bahwa manusia punya dorongan egois. Namun ia juga melihat kebutuhan batin untuk dicintai dan dihargai oleh sesama. Moralitas yang sehat menyeimbangkan keduanya lewat pengendalian diri dan nurani yang jernih.
Pada akhirnya, kebahagiaan yang tenang lahir dari hubungan sosial yang hangat dan bermartabat, bukan dari kekayaan atau status semata.
Menjadi pribadi yang lebih berbudi
The Theory of Moral Sentiments membantumu memahami mengapa kita peduli, bagaimana kita menilai diri sendiri, dan apa yang membuat masyarakat bertahan. Untuk menelusuri gagasan Adam Smith secara perlahan dan utuh, baca ringkasan lengkap The Theory of Moral Sentiments di aplikasi BacaApps.
Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: The Theory of Moral Sentiments karya Adam Smith
