Memahami Rahasia Viralitas dalam Buku Contagious karya Jonah Berger
Tim BacaApps25 October 2026 5 min read

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa sebuah video sederhana bisa ditonton jutaan orang dalam hitungan hari, sementara iklan mahal sering kali diabaikan begitu saja? Apakah viralitas hanyalah soal keberuntungan atau pengaruh selebritas besar? Dalam buku Contagious, Jonah Berger menjelaskan bahwa ada pola psikologi sosial yang tersembunyi di balik fenomena tersebut.
Melalui buku ini, kamu akan belajar bahwa popularitas sebuah produk atau gagasan sebenarnya bisa dirancang. Berger membongkar rahasia bagaimana sebuah pesan bisa menyebar secara organik melalui metode yang ia sebut sebagai kerangka kerja STEPPS. Artikel ini akan membahas poin-poin penting dari buku tersebut agar kamu bisa memahami cara kerja pengaruh sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Sesuatu Bisa Menjadi Viral?
Banyak orang mengira bahwa untuk menjadi viral, kita membutuhkan anggaran iklan yang raksasa atau bantuan tokoh terkenal. Namun, Berger membantah anggapan tersebut. Viralitas bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari penerapan prinsip psikologi yang tepat pada sebuah pesan.
Salah satu alasan mengapa sesuatu bisa menyebar luas adalah kekuatan dari mulut ke mulut atau word of mouth. Berbeda dengan iklan yang sering kali disambut dengan rasa curiga karena kita tahu perusahaan sedang mempromosikan diri, rekomendasi dari teman terasa jauh lebih jujur dan meyakinkan. Selain itu, pembicaraan ini sangat tepat sasaran karena informasi cenderung mengalir kepada orang yang memang membutuhkannya.
Hal yang paling krusial untuk diingat adalah kunci penyebaran pesan terletak pada isi pesannya, bukan pada siapa pembawa pesannya. Berger mengibaratkan penularan ide seperti kebakaran hutan; percikan awal mungkin diperlukan, tetapi seberapa besar kobaran apinya ditentukan oleh seberapa kering pepohonan di sekitarnya. Jika pesannya kuat dan relevan, ribuan orang biasa pun bisa membuatnya menyebar luas tanpa perlu bantuan selebritas.
Membangun Social Currency dan Menggunakan Triggers
Prinsip pertama dalam kerangka STEPPS adalah Social Currency atau mata uang sosial. Manusia memiliki kecenderungan alami untuk ingin terlihat pintar, keren, atau berwawasan luas di depan orang lain. Kita cenderung membagikan informasi yang membuat kita tampak memiliki pengetahuan eksklusif atau status yang lebih tinggi.
Contoh konkretnya adalah merek minuman Snapple yang menaruh fakta-fakta unik di balik tutup botolnya. Saat seseorang membaca fakta tersebut dan menceritakannya kepada teman, mereka merasa sedang membagikan sesuatu yang istimewa, yang pada akhirnya meningkatkan kesan positif terhadap si pembicara.
Memanfaatkan Pemicu di Lingkungan Sekitar
Agar sebuah ide tidak hanya viral sesaat tetapi terus dibicarakan dalam jangka panjang, kamu memerlukan Triggers atau pemicu. Pemicu adalah rangsangan di lingkungan sekitar, seperti aroma, suara, atau rutinitas, yang membuat orang teringat pada produkmu.
Sebagai contoh, biskuit Kit Kat berhasil meningkatkan popularitasnya dengan mengaitkan produk mereka dengan kebiasaan minum kopi di waktu istirahat. Karena kopi diminum jutaan orang setiap hari, produk Kit Kat otomatis teringat setiap kali orang memegang secangkir kopi. Berger juga menekankan bahwa pemicu yang muncul dengan frekuensi tinggi jauh lebih efektif. Sereal Cheerios, misalnya, lebih sering muncul di pikiran orang karena terlihat setiap pagi di meja sarapan, dibandingkan Disney World yang mungkin hanya dikunjungi setahun sekali.
Menyentuh Emosi dan Menampilkan Bukti Publik
Prinsip ketiga adalah Emotion. Berger menjelaskan bahwa tidak semua emosi bisa mendorong orang untuk berbagi. Kuncinya adalah emosi dengan gairah tinggi atau high-arousal, seperti rasa kagum, marah, atau kegembiraan yang meluap-luap.
Emosi jenis ini meningkatkan detak jantung dan menciptakan gairah fisiologis yang mendorong seseorang untuk segera bertindak, termasuk membagikan informasi tersebut. Sebaliknya, emosi gairah rendah seperti rasa sedih atau rasa puas justru cenderung membuat orang menjadi pasif dan tidak melakukan apa-apa.
Melihat Orang Lain Melakukan Sesuatu
Selain emosi, prinsip Public juga sangat berpengaruh. Manusia adalah makhluk sosial yang cenderung meniru apa yang mereka lihat dilakukan oleh orang lain, sebuah fenomena yang disebut sebagai bukti sosial atau social proof. Kamu bisa melihat ini pada antrean panjang di gerobak makanan yang membuat orang lain yakin bahwa makanan tersebut lezat.
Agar sebuah produk mudah ditiru, kamu perlu menciptakan jejak perilaku atau behavioral residue yang terlihat oleh publik. Contohnya adalah Apple yang menggunakan kabel earphone berwarna putih pada iPod. Warna yang mencolok ini membuat penggunaan produk tersebut terlihat jelas di ruang publik, sehingga secara tidak langsung mengiklankan keberadaan produk kepada siapa pun yang melihatnya.
Memberikan Nilai Praktis dan Kekuatan Cerita
Orang sangat suka membagikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Inilah yang disebut sebagai Practical Value. Informasi yang membantu orang menghemat waktu, uang, atau mempermudah hidup mereka akan selalu dicari dan diteruskan. Contoh sederhananya adalah video tips mengupas jagung rebus yang sangat mudah; orang membagikannya karena tips tersebut benar-benar berguna untuk pekerjaan dapur mereka.
Terakhir, gunakanlah Stories atau cerita untuk membungkus pesanmu. Manusia lebih mudah mengingat alur cerita daripada deretan data atau angka yang membosankan. Cerita berfungsi seperti Kuda Troya, di mana pesan utama kamu masuk ke dalam ingatan orang melalui sebuah narasi yang menarik.
Namun, ada satu peringatan penting: hindari apa yang disebut sebagai viralitas yang tidak bernilai. Kamu harus memastikan bahwa produk atau gagasan utamamu menjadi inti dari cerita tersebut. Jangan sampai orang hanya mengingat keseruan ceritanya, tetapi lupa pada merek atau produk yang sebenarnya ingin kamu promosikan.
Terapkan Prinsip STEPPS untuk Ide Kamu
Menjadi viral bukanlah sebuah kebetulan yang datang tiba-tiba. Dengan memahami kerangka kerja STEPPS, kamu bisa merancang pesan yang lebih efektif:
- Social Currency: Buat orang merasa keren saat menceritakan ide kamu.
- Triggers: Kaitkan ide kamu dengan pemicu yang ada dalam rutinitas harian.
- Emotion: Sentuh emosi dengan gairah tinggi untuk memicu tindakan.
- Public: Buat perilaku penggunaan produk menjadi sesuatu yang terlihat nyata.
- Practical Value: Berikan manfaat nyata yang bisa membantu orang lain.
- Stories: Bungkus pesan kamu ke dalam cerita yang kuat.
Pastikan gagasan utamamu menyatu erat dengan jalan ceritanya agar kepopulerannya memberikan hasil nyata bagi bisnis atau gerakan sosial yang kamu jalankan.
Ingin memahami detail setiap prinsip secara mendalam dan mempelajari lebih banyak strategi pemasaran yang cerdas? Baca ringkasan lengkap buku Contagious di aplikasi BacaApps sekarang juga.
Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: Contagious karya Jonah Berger
