All posts

Memahami Handbook for Developing Emotional and Social Intelligence

Tim BacaApps12 October 2026 3 min read

Memahami Handbook for Developing Emotional and Social Intelligence

Pernahkah kamu mengenal pemimpin yang sangat pintar secara teknis, tetapi timnya bekerja tanpa semangat? Handbook for Developing Emotional and Social Intelligence karya Marcia Hughes & Henry L. Thompson & James Bradford Terrell menjelaskan mengapa hal itu terjadi dan bagaimana memperbaikinya. Buku ini ditulis sebagai panduan praktis bagi profesional sumber daya manusia, pelatih eksekutif, dan konsultan.

Meski ditujukan untuk praktisi, pelajarannya berguna bagi siapa pun yang ingin bekerja lebih baik bersama orang lain. Berikut gagasan-gagasan utamanya.

Kepemimpinan adalah sebuah hubungan

Gagasan inti buku ini sederhana: kepemimpinan adalah hubungan. Keberhasilan seorang pemimpin bergantung pada kemampuannya melibatkan orang lain, bukan hanya pada kecerdasan teknisnya.

Buku ini menghadirkan kisah Don Bennett, pendaki pertama yang mencapai puncak Mt. Rainier dengan satu kaki. Pelajaran yang ia petik: tak seorang pun bisa melakukannya sendirian. Hal yang sama berlaku di kantor. Target besar tercapai karena orang-orang mau bergerak bersama.

Gagasan ini mengubah cara kita menilai pemimpin. Pertanyaannya bukan lagi sekadar seberapa pintar ia, tetapi seberapa baik ia membangun kepercayaan, mendengarkan, dan membuat orang lain ingin berkontribusi.

Kecerdasan emosional dan sosial bisa diukur dan dilatih

Para penulis menegaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial (Emotional and Social Intelligence, disingkat ESI) bukan soft skills yang kabur. Keterampilan ini bisa diukur, bertahan lama, dan dapat diperluas dari satu orang ke seluruh organisasi.

Karena itu, buku ini dilengkapi kerangka, alat asesmen, dan kisah nyata. Pembahasannya bergerak dari coaching individu, ke tim, organisasi, hingga masyarakat.

Bagi praktisi SDM atau pelatih, ini kabar penting. Karena bisa diukur, perkembangan ESI dapat dipantau dari waktu ke waktu, sehingga program pengembangan tidak lagi hanya mengandalkan kesan atau perasaan.

Lima strategi efektivitas emosional dan sosial

Buku ini memperkenalkan lima strategi yang bisa dilatih lewat coaching:

  • Valuing Self: menghargai diri sendiri sebagai dasar untuk bertindak dengan mantap.
  • Valuing Others: menghargai orang lain, sehingga hubungan kerja dibangun di atas rasa hormat.
  • Responsive Awareness: kesadaran untuk menanggapi situasi dengan tepat, bukan bereaksi secara otomatis.
  • Courage: keberanian untuk bertindak dan berbicara ketika dibutuhkan.
  • Authentic Success: keberhasilan yang selaras dengan diri yang sebenarnya.

Coba renungkan strategi mana yang paling kuat dan paling lemah dalam dirimu. Misalnya, kamu mungkin sangat menghargai orang lain, tetapi kurang berani menyampaikan pendapat yang berbeda dalam rapat.

Mengapa pemimpin bisa jatuh

Buku ini juga membahas hal-hal yang bisa menjatuhkan seorang pemimpin, di antaranya stres, ketidakseimbangan keterampilan, dan struktur organisasi yang kabur.

Stres yang menumpuk membuat orang kembali pada kebiasaan lama yang merugikan. Keterampilan yang timpang, misalnya sangat kuat di satu sisi tetapi lemah di sisi lain, menciptakan titik buta. Struktur yang tidak jelas membuat peran dan tanggung jawab saling tumpang tindih. Para penulis menawarkan pendekatan seperti ARSENAL untuk membantu mencegahnya.

Bagian ini mengingatkan bahwa kegagalan seorang pemimpin jarang disebabkan satu hal saja. Biasanya ada kombinasi tekanan, kebiasaan, dan lingkungan kerja yang saling memperburuk. Karena itu, pencegahannya pun perlu memperhatikan ketiganya.

Perubahan yang bertahan dimulai dari diri ideal

Banyak program pelatihan gagal karena perubahannya tidak bertahan lama. Buku ini memakai Intentional Change Theory untuk merancang perubahan yang disengaja dan berkelanjutan. Garis besarnya:

  1. Tentukan gambaran diri idealmu: pemimpin atau rekan kerja seperti apa yang ingin kamu jadi.
  2. Kenali jarak antara dirimu saat ini dan diri ideal itu.
  3. Bangun kebiasaan latihan sehari-hari yang kecil tetapi konsisten.

Contohnya, jika kamu ingin menjadi atasan yang lebih mendengarkan, latihan hariannya bisa sesederhana menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan dalam satu rapat setiap hari.

Mulai berubah dengan sengaja

Buku ini mengingatkan bahwa kecerdasan emosional dan sosial bukan bakat yang dimiliki segelintir orang, melainkan keterampilan yang bisa dikembangkan siapa saja. Untuk mempelajari kerangka, alat asesmen, dan kisah-kisah nyata di dalamnya, baca ringkasan lengkap “Handbook for Developing Emotional and Social Intelligence” di aplikasi BacaApps.

Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: Handbook for Developing Emotional and Social Intelligence karya Marcia Hughes & Henry L. Thompson & James Bradford Terrell

Handbook for Developing Emotional and Social Intelligence

The book in this post

Marcia Hughes & Henry L. Thompson & James Bradford Terrell

"Handbook for Developing Emotional and Social Intelligence" oleh Marcia Hughes & Henry L. Thompson & James Bradford Terrell adalah buku panduan praktis bagi profesional sumber daya manusia, pelatih eksekutif, dan konsultan yang ingin mengembangkan kecerdasan emosional dan sosial. Masalah yang diangkat sederhana: banyak pemimpin cerdas secara teknis, tetapi gagal karena hubungan dengan orang lain. Gagasan intinya, kepemimpinan adalah sebuah hubungan, dan keterampilan emosional-sosial bisa diukur serta dilatih. Dari coaching individu, tim, hingga organisasi dan masyarakat, kamu akan mendapat kerangka, alat asesmen, dan kisah nyata untuk mulai berubah dengan sengaja.

Read the summary