BacaApps
All posts

Melihat Sisi Baik Manusia dalam Buku Humankind karya Rutger Bregman

Tim BacaApps25 October 2026 5 min read

Melihat Sisi Baik Manusia dalam Buku Humankind karya Rutger Bregman

Pernahkah kamu merasa cemas saat membaca berita di ponsel, seolah-olah dunia ini penuh dengan kekacauan dan orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri? Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa di balik senyum ramah tetangga, manusia sebenarnya menyimpan sifat egois yang buas dan hanya bisa tertib karena adanya aturan hukum yang ketat.

Dalam buku Humankind, penulis Rutger Bregman mencoba membongkar pandangan suram tersebut. Melalui penelusuran sejarah, biologi evolusi, dan psikologi, ia menunjukkan bahwa kenyataannya justru sebaliknya: sifat bawaan kita adalah suka bekerja sama dan cenderung berbuat baik. Artikel ini akan membahas mengapa pandangan kita tentang kejahatan manusia selama ini sering kali keliru.

Membongkar Mitos Bahwa Manusia Itu Jahat

Selama berabad-abad, banyak pemikir memercayai apa yang disebut sebagai veneer theory atau teori lapisan tipis. Gagasan ini menganggap bahwa peradaban manusia hanyalah lapisan cat luar yang rapuh. Jika terjadi krisis atau musibah, lapisan ini akan terkelupas dan memperlihatkan sifat asli manusia yang konon kejam dan tanpa aturan.

Namun, bukti di lapangan sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Saat menghadapi masa-masa sulit yang mengancam nyawa, manusia justru menunjukkan ketenangan dan solidaritas yang luar biasa:

  • Peristiwa The Blitz di London (1940): Saat pesawat Jerman menjatuhkan ribuan bom ke pemukiman, warga tidak mengalami histeria massal. Sebaliknya, mereka saling membantu memadamkan api dan berbagi tempat tidur di stasiun kereta bawah tanah.
  • Tenggelamnya Titanic (1912): Di tengah situasi yang sangat genting, para penumpang tetap mematuhi antrean sekoci secara tertib dan mendahulukan perempuan serta anak-anak.
  • Badai Katrina (2005): Meskipun media melaporkan adanya penjarahan dan kekerasan massal, penelitian sosiologi menunjukkan bahwa kabar tersebut sebagian besar bohong. Warga justru terlihat bergotong royong mendayung perahu untuk menyelamatkan tetangga mereka.

Ketidaksesuaian antara laporan berita dan kenyataan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki ketahanan moral yang kuat saat menghadapi krisis.

Mengapa Kita Sering Mengira Dunia Ini Kejam

Jika manusia pada dasarnya baik, mengapa dunia terasa begitu menyeramkan? Bregman menjelaskan bahwa kita sering terjebak dalam mean world syndrome atau sindrom dunia yang kejam. Hal ini dipicu oleh kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus di layar ponsel kita.

Pikiran kita memiliki kecenderungan alami yang disebut bias negativitas, di mana kita lebih mudah mengingat ancaman daripada hal positif. Selain itu, ada juga bias ketersediaan yang membuat kita menyimpulkan bahwa karena hal-hal buruk sering muncul di layar, maka itulah gambaran umum seluruh kehidupan. Akibatnya, kita merasa kejahatan ada di setiap sudut jalan.

Padahal, jika kita melihat data yang lebih luas, manusia bukan makhluk yang hanya mengejar keuntungan pribadi. Peneliti Joseph Henrich melakukan eksperimen dengan mendatangi berbagai masyarakat tradisional untuk bermain simulasi pembagian uang. Hasilnya, orang-orang di berbagai belahan dunia justru memilih untuk membagi rezeki secara adil dan menolak keuntungan sepihak, yang membuktikan bahwa kita bukan makhluk yang rakus secara alami.

Bukti Evolusi Bahwa Kerja Sama Adalah Kunci

Banyak orang mengira bahwa manusia bertahan hidup karena kecerdasan licik untuk menipu sesamanya. Namun, sejarah dan biologi menunjukkan hal yang berbeda. Kita bisa membandingkan fiksi dengan kenyataan nyata untuk melihat perbedaannya.

Dalam novel Lord of the Flies, sekelompok anak sekolah yang terdampar di pulau digambarkan menjadi kejam dan saling menghabisi. Namun, kisah nyata anak-anak dari Tonga yang terdampar di Pulau 'Ata pada tahun 1965 justru menunjukkan sebaliknya. Selama lima belas bulan tanpa orang dewasa, mereka membentuk kesepakatan untuk bekerja sama, membagi tugas harian secara adil, dan saling merawat saat ada yang terluka.

Secara biologis, manusia juga berevolusi untuk menjadi makhluk yang ramah. Bregman menyebut konsep Homo puppy, merujuk pada proses penjinakan diri yang membuat kita lebih mudah memahami isyarat sosial dan perasaan orang lain. Keunggulan utama spesies kita, Homo sapiens, bukan terletak pada kekuatan fisik atau otot yang kekar, melainkan pada kemampuan kita sebagai mesin belajar sosial yang mampu bekerja sama dalam kelompok besar.

Dampak Keyakinan dan Sistem yang Saling Curiga

Cara kita memandang sesama ternyata memiliki dampak nyata pada perilaku kita. Ada fenomena yang disebut efek nocebo, di mana keyakinan buruk terhadap sesuatu dapat menimbulkan gejala fisik yang nyata, seperti rasa sakit atau mual, meskipun objeknya sebenarnya tidak berbahaya.

Hal serupa terjadi pada cara kita membangun sistem sosial. Banyak institusi, termasuk tempat kerja, dibangun di atas rasa saling curiga. Contohnya adalah metode Rank & Yank di perusahaan Enron, di mana karyawan dipaksa bersaing ketat demi menghindari pemecatan. Sistem yang mengasumsikan manusia itu egois ini justru merusak kerja sama tim dan memicu kecurangan.

Sebaliknya, kita bisa memanfaatkan kekuatan harapan positif melalui efek Pygmalion. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang diberikan harapan atau kepercayaan akan potensi yang tinggi, prestasi mereka dapat meningkat secara nyata. Kita cenderung menjadi seperti apa yang diharapkan orang lain terhadap diri kita.

Membangun Institusi Berbasis Rasa Percaya

Jika kita mulai membangun sistem yang berbasis pada rasa percaya, hasilnya bisa sangat transformatif. Bregman memberikan beberapa contoh konkret bagaimana pendekatan manusiawi bekerja lebih baik daripada pengawasan ketat:

  • Dunia Kesehatan: Organisasi perawat Buurtzorg di Belanda menghapus peran manajer pengendali dan memberikan kemandirian penuh kepada tim perawat. Hasilnya, pasien sembuh lebih cepat dan biaya operasional justru turun.
  • Sistem Peradilan: Penjara di Norwegia menerapkan prinsip normalitas, di mana narapidana diperlakukan secara manusiawi agar mereka tetap terhubung dengan dunia luar. Hal ini terbukti menurunkan angka narapidana yang kembali melakukan kejahatan secara drastis.
  • Resolusi Konflik: Melalui hipotesis kontak, kita belajar bahwa prasangka sosial akan luntur jika dua kelompok yang berselisih duduk bersama dan melakukan kontak langsung.

Membangun institusi yang percaya pada kemampuan manusia bukan hanya soal kebaikan hati, tetapi juga soal efektivitas dan kemajuan peradaban.

Temukan Kebaikan Manusia Lebih Dalam Lagi

Dunia ini sebenarnya penuh dengan jutaan tindakan baik yang berlangsung tenang setiap pagi, seperti tetangga yang menyapa atau transportasi umum yang sampai tepat waktu. Sayangnya, tindakan-tindakan ini jarang sekali masuk ke dalam berita utama.

Memahami bahwa kita hidup di dunia yang penuh dengan kerja sama dapat mengubah cara kita berinteraksi dengan orang lain dan merancang sistem yang lebih baik. Untuk memahami bagaimana rasa percaya dapat mengubah dunia kita secara lebih mendalam, kamu bisa membaca ringkasan lengkap buku Humankind di aplikasi BacaApps.

Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: Humankind karya Rutger Bregman

Humankind

The book in this post

Rutger Bregman

"Humankind" oleh Rutger Bregman adalah buku yang membantah anggapan lama bahwa manusia pada dasarnya egois, liar, dan hanya berbuat baik karena paksaan aturan. Melalui penelusuran sejarah peradaban, riset biologi evolusi, serta pembongkaran kekeliruan dalam berbagai eksperimen psikologi terkenal, Bregman membuktikan bahwa spesies kita justru bertahan hidup berkat kemampuan bekerja sama dan bersikap ramah. Kamu akan diajak membuang kecurigaan berlebih terhadap sesama, memahami asal mula prasangka sosial, dan melihat bagaimana rasa percaya mampu merancang ulang institusi publik seperti tempat kerja, sekolah, serta sistem peradilan menjadi jauh lebih manusiawi.

Read the summary