How to Deal With Difficult people: Ubah Responsmu, Bukan Orangnya
Tim BacaApps12 October 2026 3 min read

Hampir semua orang punya satu sosok yang kehadirannya saja sudah menguras energi: rekan kerja yang meremehkan, kerabat yang tak pernah puas, atau teman yang setiap bertemu hanya mengeluh. How to Deal With Difficult people karya Gill Hasson adalah panduan praktis untuk menghadapi mereka tanpa ikut terseret emosi.
Pesan intinya sederhana tetapi tidak selalu mudah diterima: kamu tidak bisa mengubah orang lain, tetapi kamu bisa mengubah cara meresponsnya. Berikut pelajaran-pelajaran utamanya.
Perilaku sulit berada dalam sebuah spektrum
Hasson mengajak kita melihat perilaku sulit sebagai spektrum, dari yang sekadar menjengkelkan sampai yang benar-benar merugikan. Tidak semua orang sulit perlu dihadapi dengan cara yang sama.
Ia juga mengingatkan bahwa perilaku sulit selalu punya alasan di baliknya. Memahami alasan ini tidak berarti membenarkan perilakunya, tetapi membantumu tidak menanggapinya secara pribadi. Sikap ketus seorang rekan, misalnya, bisa jadi lebih banyak berkaitan dengan tekanan yang ia hadapi daripada dengan dirimu.
Dengan melihat spektrum ini, kamu bisa menakar respons yang sepadan. Rekan yang sesekali ketus tidak perlu dihadapi seperti perundung. Sebaliknya, perilaku yang benar-benar merugikan tidak cukup ditanggapi dengan diam.
Bercermin pada pikiran dan harapanmu sendiri
Sebelum mengubah cara merespons, Hasson mengajakmu bercermin pada pikiran dan ekspektasimu sendiri. Seberapa besar kekesalanmu datang dari harapan bahwa orang itu seharusnya bersikap berbeda?
Misalnya, kamu kesal setiap kali atasan mengoreksi pekerjaan di depan tim. Mengakui bahwa kamu tidak bisa mengendalikan kebiasaannya, tetapi bisa memilih cara menanggapinya, sering kali sudah meringankan beban emosimu.
Ini bukan berarti kamu harus menerima semua perlakuan buruk. Bercermin membantumu membedakan mana yang memang perlu ditanggapi, dan mana yang lebih baik dilepaskan agar tidak terus menguras pikiran.
Dengarkan secara reflektif dan baca bahasa tubuh
Banyak konflik membesar karena orang merasa tidak didengar. Mendengarkan secara reflektif berarti menangkap maksud dan perasaan lawan bicara, lalu menyampaikannya kembali dengan kata-katamu sendiri. Contohnya: “Jadi kamu kecewa karena laporanmu tidak disebut di rapat tadi, ya?”
Selain kata-kata, perhatikan bahasa tubuh, baik milik orang lain maupun milikmu sendiri. Nada suara, raut wajah, dan sikap badan sering menyampaikan pesan yang lebih jujur daripada ucapan.
Mendengarkan seperti ini tidak sama dengan setuju. Kamu hanya menunjukkan bahwa kamu memahami sudut pandangnya. Sering kali, begitu seseorang merasa dipahami, nada bicaranya menurun dan percakapan bisa dilanjutkan dengan lebih tenang.
Bersikap asertif dengan pernyataan “Saya”
Asertif berbeda dengan agresif. Kamu menyampaikan keinginan dan batasmu dengan jelas dan tenang, tanpa menyerang orang lain.
Salah satu caranya adalah memakai pernyataan “Saya” alih-alih menuduh. Bandingkan dua kalimat ini:
- “Kamu selalu telat dan bikin semua orang menunggu.”
- “Saya kesulitan memulai rapat tepat waktu kalau ada yang belum datang. Saya ingin kita mulai pukul sembilan.”
Kalimat kedua fokus pada dampak dan kebutuhanmu, sehingga lawan bicara lebih kecil kemungkinannya untuk bersikap defensif.
Bersikap asertif juga berarti siap mendengar jawaban yang berbeda dari harapanmu. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyampaikan kebutuhanmu dengan jujur dan membuka ruang untuk mencari jalan tengah.
Menghadapi berbagai tipe, termasuk kapan harus pergi
Hasson membahas cara menghadapi berbagai tipe orang sulit, dari yang marah terang-terangan, yang melawan secara diam-diam, sampai perundung. Beberapa prinsip yang bisa kamu pegang:
- Saat menghadapi kemarahan terang-terangan, jaga dirimu tetap tenang dan jangan membalas dengan emosi yang sama.
- Saat menghadapi perlawanan diam-diam, seperti sindiran atau sikap menunda yang disengaja, sebutkan perilakunya dengan jelas dan tenang.
- Saat menghadapi perundung, tetapkan batas dengan tegas dan jangan ragu mencari dukungan.
Hasson juga jujur bahwa tidak semua hubungan bisa diperbaiki. Ada saatnya kamu perlu menetapkan batas yang lebih keras, atau menjauh demi menjaga dirimu sendiri.
Mengambil jarak bukan tanda kalah. Kadang justru itulah bentuk paling sehat dari menghargai diri sendiri, terutama jika segala upaya baik-baik sudah kamu coba.
Kendalikan responsmu, bukan orang lain
Hasson mengingatkan bahwa kebahagiaan kita sangat bergantung pada hubungan dengan sesama. Dengan keterampilan yang tepat, kamu bisa mengurangi stres dan tetap menjaga hubungan yang penting. Untuk mempelajari strateginya lebih lengkap, baca ringkasan lengkap “How to Deal With Difficult people” di aplikasi BacaApps.
Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: How to Deal With Difficult people karya Gill Hasson
