Good Strategy, Bad Strategy: Membedakan Strategi Nyata dari Slogan
Tim BacaApps12 October 2026 4 min read

Pernahkah kamu keluar dari rapat kerja dengan daftar target yang ambisius, tetapi tanpa gambaran jelas tentang cara mencapainya? Good Strategy, Bad Strategy karya Richard P. Rumelt membahas persis masalah itu: mengapa begitu banyak “strategi” sebenarnya hanya slogan, dan seperti apa strategi yang benar-benar bekerja.
Rumelt, profesor dan konsultan manajemen berpengalaman, menunjukkan bahwa strategi yang baik justru sering mengejutkan karena kesederhanaannya. Berikut pelajaran utama yang bisa kamu bawa ke kantor, usaha, maupun rencana pribadimu.
Strategi bukan sekadar target dan semangat
Kesalahan paling umum adalah menyamakan strategi dengan tujuan. “Tumbuh dua kali lipat” atau “menjadi pemimpin pasar” adalah keinginan, bukan strategi. Target seperti itu tidak menjelaskan rintangan apa yang dihadapi dan apa yang akan dilakukan untuk melewatinya.
Rumelt juga mengkritik kebiasaan mengandalkan motivasi. Tekad memang penting, tetapi tidak bisa menggantikan pemikiran tentang bagaimana cara menang. Pidato penuh semangat tanpa rencana hanya membuat tim bersemangat menuju arah yang tidak jelas.
Kenali ciri-ciri strategi buruk
Strategi buruk bukan sekadar ketiadaan strategi yang baik. Ia punya ciri yang bisa dikenali, antara lain:
- Jargon kosong. Kalimat yang terdengar canggih tetapi tidak berisi. Kata-kata rumit dipakai untuk menutupi pemikiran yang dangkal.
- Tidak menghadapi masalah. Rencana disusun tanpa pernah menyebut tantangan utamanya. Padahal, kalau masalahnya tidak dirumuskan, mustahil menilai apakah strategi itu bagus.
- Tujuan dikira strategi. Daftar target keuangan dan ambisi dijadikan pengganti rencana kerja.
- Sasaran yang buruk. Daftar panjang hal yang ingin dicapai tanpa prioritas, atau sasaran yang sama sulitnya dengan masalah aslinya.
Coba lihat rencana kerja tim atau usahamu tahun ini. Kalau isinya hanya angka target dan kata-kata seperti “sinergi” atau “inovasi berkelanjutan”, besar kemungkinan kamu sedang memegang strategi buruk.
Tiga inti strategi yang baik
Menurut Rumelt, inti strategi yang baik terdiri dari tiga bagian yang saling terkait:
- Diagnosis. Penjelasan jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi dan rintangan mana yang paling penting. Diagnosis yang baik menyederhanakan situasi rumit sehingga kamu bisa fokus.
- Kebijakan panduan. Pendekatan umum untuk menghadapi rintangan tersebut. Ia seperti pagar pembatas yang memberi arah tanpa merinci setiap langkah.
- Tindakan terkoordinasi. Serangkaian langkah nyata yang saling menguatkan untuk menjalankan kebijakan itu. Tanpa tindakan, strategi hanya tinggal wacana.
Contohnya, sebuah warung makan yang sepi pembeli. Diagnosisnya mungkin bukan soal rasa, tetapi lokasinya jauh dari jalur orang lewat. Kebijakan panduannya: menjangkau pembeli yang tidak melintas di depan warung. Tindakannya bisa berupa bergabung ke layanan pesan-antar, menawarkan katering untuk kantor sekitar, dan menyesuaikan menu agar tetap enak setelah perjalanan. Semua langkah itu menuju satu arah yang sama.
Perhatikan bahwa kekuatan contoh ini ada pada diagnosisnya. Kalau diagnosisnya keliru, misalnya mengira masalahnya ada pada rasa, semua tindakan berikutnya akan salah sasaran, sekeras apa pun usahanya. Karena itu, luangkan waktu yang cukup untuk memahami masalah sebelum sibuk menyusun langkah.
Memilih berarti berani berkata tidak
Strategi selalu melibatkan pilihan. Kamu memusatkan sumber daya pada sedikit hal dan meninggalkan yang lain. Di sinilah banyak pemimpin ragu, karena memilih berarti mengecewakan sebagian pihak.
Akibatnya, mereka menyusun daftar prioritas yang berisi semua hal. Tenaga dan dana tersebar tipis sehingga tidak ada yang benar-benar berhasil. Strategi yang baik justru berani mengabaikan gangguan dan memusatkan upaya pada hal yang paling menentukan.
Coba terapkan pada dirimu sendiri. Jika tahun ini kamu ingin naik jabatan, menabung untuk rumah, dan memulai usaha sampingan sekaligus, tanyakan mana rintangan terbesarmu saat ini. Memusatkan energi pada satu tantangan utama sering memberi hasil lebih nyata daripada mengejar semuanya setengah hati.
Temukan daya ungkit dan keunggulanmu
Rumelt menjelaskan bahwa strategi yang baik memanfaatkan sumber kekuatan tertentu. Salah satunya adalah daya ungkit: menemukan titik yang jika didorong akan menghasilkan dampak jauh lebih besar dari upayanya. Ini butuh kemampuan melihat situasi dari sudut yang tidak dilihat orang lain.
Ia juga menekankan sasaran dekat, yaitu target yang cukup jelas dan bisa dicapai sehingga tim tahu persis apa yang harus dikerjakan. Ketimbang “menguasai pasar”, sasaran dekat bisa berupa “memenangkan pelanggan kantor di satu kawasan lebih dulu”.
Keunggulan bersaing pun bisa dibangun dengan memahami kelemahan lawan. Kamu tidak harus lebih baik dalam segala hal. Cukup temukan celah tempat kekuatanmu bertemu dengan kelemahan pesaing, lalu pusatkan upayamu di sana.
Saatnya menyusun strategi yang sungguhan
Good Strategy, Bad Strategy mengajakmu berhenti terpukau oleh slogan dan mulai berpikir jernih: apa masalah sebenarnya, apa pendekatan kita, dan langkah apa yang saling mendukung. Untuk memahami gagasan Richard P. Rumelt lebih utuh, baca ringkasan lengkap “Good Strategy, Bad Strategy” di aplikasi BacaApps.
Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: Good Strategy, Bad Strategy karya Richard P. Rumelt
