Belajar Mengambil Keputusan Rasional di Risk Return Analysis Volume 3
Tim BacaApps3 November 2026 4 min read

Pernahkah kamu merasa harus mengambil keputusan besar, seperti memilih pekerjaan baru atau menaruh tabungan di instrumen investasi tertentu, padahal kamu tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan? Situasi ini sering kali membuat kita bimbang karena ada ketidakpastian yang membayangi setiap langkah kita.
Dalam buku Risk Return Analysis Volume 3, Harry Markowitz membahas bagaimana cara tetap mengambil keputusan yang rasional meskipun peluang hasilnya tidak diketahui. Melalui buku ini, kamu akan diajak menelusuri logika dan matematika di balik cara berpikir seorang pembuat keputusan yang handal di tengah situasi yang tidak menentu.
Membedakan Risiko dan Ketidakpastian
Salah satu pelajaran penting dari Markowitz adalah kemampuan untuk membedakan antara risiko dan ketidakpastian. Dalam dunia keuangan, risiko adalah situasi di mana peluang terjadinya suatu hasil dapat diukur secara matematis. Sebaliknya, ketidakpastian adalah kondisi di mana peluang dari hasil tersebut sama sekali tidak diketahui.
Pelajaran ini sangat krusial karena dalam dunia nyata, kepastian penuh hampir tidak pernah datang. Jika kamu terus menunggu bukti yang benar-benar pasti sebelum bertindak, kamu mungkin akan kehilangan peluang besar. Markowitz memberikan ilustrasi tentang seseorang yang sangat lapar tetapi takut makan karena takut makanannya beracun. Karena menunggu bukti pasti bahwa makanan itu aman, ia akhirnya mati kelaparan.
Oleh karena itu, kamu perlu menggunakan apa yang disebut sebagai hipotesis kerja. Ini adalah dugaan terbaik yang cukup beralasan untuk dijadikan dasar tindakan, namun kamu harus tetap siap untuk merevisinya jika ada informasi baru yang muncul.
Menjadi Pembuat Keputusan yang Rasional
Markowitz mengajak kita untuk mengenal perbedaan antara dua jenis pengambil keputusan. Pertama adalah Rational Decision Maker, yaitu sosok ideal dalam teori yang selalu konsisten, tidak dikuasai emosi, dan selalu memilih tindakan yang memberikan manfaat terbesar. Kedua adalah Human Decision Maker, yaitu manusia nyata seperti kita yang sering kali dipengaruhi oleh rasa takut, keinginan untuk cepat puas, atau keputusan yang terburu-buru.
Untuk mendekati kualitas seorang pembuat keputusan yang rasional, Markowitz menyarankan kita untuk menjawab tiga pertanyaan filosofis sebelum bertindak:
- Apa yang bisa kita ketahui?
- Bagaimana cara memperoleh pengetahuan itu?
- Bagaimana kita harus bertindak berdasarkan pengetahuan tersebut?
Dengan menggunakan metode deduksi, kamu bisa mengubah informasi mentah—baik data kuantitatif seperti harga pasar maupun data kualitatif seperti reputasi manajemen—menjadi keputusan investasi yang kokoh. Deduksi membantu memastikan bahwa kesimpulanmu lahir dari dasar yang kuat, bukan sekadar berdasarkan perasaan semata.
Pentingnya Memori dan Hipotesis dalam Berpikir
Tahukah kamu bahwa memori adalah syarat dasar dari sebuah pemikiran? Markowitz menjelaskan bahwa tidak ada observasi tanpa memori, dan tidak ada pemikiran tanpa memori. Tanpa ingatan, kita tidak akan bisa mengenali pola atau menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lainnya.
Penting juga bagi kamu untuk menyadari adanya joint hypothesis. Banyak kesimpulan dalam hidup dan keuangan yang tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada sejumlah asumsi lain yang saling terkait. Jika salah satu asumsi tersebut runtuh, maka seluruh kesimpulan yang kamu bangun juga akan ikut goyah. Oleh karena itu, ketelitian dalam memeriksa asumsi dasar sangatlah penting.
Mengukur Keyakinan dengan Derajat dan Bukti
Sering kali kita terjebak dalam pola pikir hitam-putih, menganggap sebuah keyakinan hanya ada dua pilihan: benar atau salah. Namun, Markowitz menawarkan perspektif yang berbeda. Ia menyarankan agar kita mengukur keyakinan berdasarkan derajatnya atau degrees of beliefs.
Kamu bisa merasa sangat yakin pada satu hal, namun hanya cukup yakin pada hal lainnya. Memahami derajat keyakinan ini sangat membantu dalam menentukan seberapa besar kamu seharusnya bertaruh atau mengambil risiko pada sebuah pilihan. Selain itu, makna sebuah gagasan sebenarnya terletak pada tindakan yang dihasilkannya. Jika sebuah gagasan tidak mengubah cara kamu bertindak, maka gagasan tersebut sebenarnya tidak memiliki makna besar bagi hidupmu.
Untuk tetap objektif, Markowitz menyarankan penggunaan Aturan Bayes. Dengan aturan ini, kamu bisa memperbarui keyakinanmu secara sistematis setiap kali ada observasi atau data baru yang muncul, sehingga keputusanmu tetap relevan dengan kondisi terbaru.
Menghadapi Perubahan Pola di Dunia Nyata
Dunia tidak selalu bergerak secara linier. Markowitz mengingatkan bahwa hubungan antara dua hal di pasar keuangan bisa berubah atau bahkan patah sewaktu-waktu. Contoh nyata adalah peristiwa Black Monday pada tahun 1987, di mana hubungan historis yang dianggap kuat tiba-tiba berubah drastis dalam satu hari.
Untuk menghadapi ketidakpastian ini, kamu perlu menerapkan constructive skepticism atau skeptisisme yang membangun. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan sebuah gagasan, melainkan untuk menguji apakah dasar dari kesimpulan tersebut sudah cukup kuat. Selain itu, kamu bisa menggunakan intuitive deduction, yaitu kemampuan membayangkan konsekuensi logis dari sebuah situasi atau model sebelum benar-benar terjun ke dalamnya.
Dengan memahami bahwa model hanyalah kerangka kerja dan bukan kebenaran mutlak, kamu akan menjadi lebih waspada terhadap perubahan pola yang terjadi di sekitar kamu.
Ingin memahami lebih dalam tentang teori keputusan dan matematika di balik manajemen risiko yang dibahas oleh Harry Markowitz? Dapatkan pemahaman mendalam tentang strategi pengambilan keputusan yang lebih jernih melalui ringkasan lengkap Risk Return Analysis Volume 3 hanya di aplikasi BacaApps.
Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: Risk Return Analysis Volume 3 karya Harry Markowitz
