BacaApps
All posts

Belajar Membawa Perubahan Melalui Buku Originals karya Adam Grant

Tim BacaApps25 October 2026 5 min read

Belajar Membawa Perubahan Melalui Buku Originals karya Adam Grant

Pernahkah kamu merasa ada aturan di tempat kerja yang sebenarnya tidak masuk akal, tetapi kamu memilih diam dan mengikutinya begitu saja? Banyak dari kita merasa bahwa untuk membawa perubahan atau menciptakan inovasi, kita harus menjadi sosok pemberani yang nekat dan rela mempertaruhkan segalanya. Namun, buku Originals karya Adam Grant membongkar mitos tersebut.

Melalui buku ini, kamu akan belajar bahwa orang-orang yang membawa perubahan bukanlah mereka yang bertindak membabi buta tanpa rencana. Sebaliknya, mereka adalah orang biasa yang belajar cara mengelola rasa takut, menyaring gagasan dengan cerdas, dan membangun dukungan secara strategis. Artikel ini akan merangkum pelajaran penting dari buku Originals agar kamu bisa mulai menyuarakan ide unikmu tanpa harus merasa terancam.

Menjadi Orisinal dengan Mempertanyakan Hal Biasa

Titik awal dari pemikiran yang orisinal bukanlah menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dari nol, melainkan kemampuan untuk melihat hal yang sudah biasa dengan cara baru. Adam Grant memperkenalkan konsep yang disebut vuja de, kebalikan dari déjà vu. Jika déjà vu adalah perasaan pernah mengalami hal baru, vuja de adalah kondisi di mana kamu memandang hal yang sudah lama biasa seolah-olah baru pertama kali melihatnya.

Dengan vuja de, kamu mulai bertanya mengapa sebuah aturan dibuat atau mengapa sebuah proses harus berjalan dengan cara tertentu, alih-alih langsung mematuhinya. Contoh nyata dari pola pikir ini adalah kisah pendirian Warby Parker. Empat mahasiswa menyadari bahwa pasar kacamata dikuasai oleh satu perusahaan besar yang membuat harga kacamata menjadi sangat mahal. Alih-alih menerima harga tersebut sebagai nasib, mereka menantang keadaan dengan menjual kacamata secara online dengan harga terjangkau.

Namun, kamu juga harus waspada terhadap jebakan "anak jenius". Banyak anak yang sangat berbakat sejak kecil justru gagal membawa perubahan besar saat dewasa. Hal ini terjadi karena mereka terlalu fokus mempelajari cara kerja aturan yang sudah ada demi mencapai prestasi tinggi. Ketika kamu terlalu terobsesi pada kesuksesan yang terukur, rasa takut berbuat salah akan membesar, dan kamu cenderung memilih jalan aman daripada mencoba mengubah sistem.

Mengelola Risiko Tanpa Harus Bertindak Nekat

Satu mitos besar yang perlu kita tinggalkan adalah bahwa inovator harus selalu mempertaruhkan segalanya. Faktanya, orang-orang yang membawa perubahan sering kali mengelola risiko mereka secara sangat hati-hati melalui strategi portofolio risiko. Strategi ini dilakukan dengan cara menyeimbangkan ketidakpastian di satu bidang dengan stabilitas di bidang lain.

Penelitian menunjukkan bahwa pengusaha yang tetap mempertahankan pekerjaan utama mereka saat merintis bisnis baru memiliki risiko gagal 33 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang langsung keluar. Memiliki sumber pendapatan yang stabil memberikan ruang mental untuk bereksperimen tanpa harus terburu-buru mengambil keputusan salah demi uang cepat. Contohnya adalah Steve Wozniak yang tetap bekerja di Hewlett-Packard saat merancang komputer Apple pertama, serta Bill Gates yang mengajukan cuti resmi dari Harvard alih-alih langsung putus kuliah tanpa perhitungan.

Pendiri Warby Parker juga menerapkan pola yang sama. Mereka tetap menyelesaikan studi dan menyiapkan rencana cadangan saat merintis usaha. Mereka bahkan memikirkan cara mengurangi keraguan pembeli dengan mengirimkan bingkai kacamata gratis untuk dicoba di rumah. Ini membuktikan bahwa orisinalitas bukanlah tentang kegagalan yang gegabah, melainkan keputusan sadar untuk bergerak maju secara bertahap.

Menyaring Ide dan Mencari Masukan yang Tepat

Masalah utama banyak orang bukanlah kekurangan ide, melainkan ketidakmampuan untuk memilih mana ide yang layak diteruskan. Adam Grant menjelaskan adanya dua jenis kesalahan dalam menilai ide:

  • Positif palsu: Mengira sebuah ide buruk akan sukses besar (contohnya adalah kegagalan Segway yang terlalu dipuji namun tidak praktis bagi pasar).
  • Negatif palsu: Membuang ide bagus karena mengiranya tidak berguna (contohnya adalah serial Seinfeld yang awalnya dianggap membosankan oleh eksekutif televisi).

Untuk menghindari kesalahan ini, kamu perlu memahami bahwa mahakarya biasanya lahir dari tumpukan percobaan yang sangat banyak. Tokoh seperti Shakespeare, Mozart, dan Edison menghasilkan ratusan karya sebelum akhirnya ada beberapa yang menjadi legendaris. Jadi, jangan berkecil hati jika banyak ide awalmu yang gagal; itu adalah bagian dari proses menuju kualitas.

Selain itu, jangan hanya mengandalkan penilaian dirimu sendiri atau atasanmu. Atasan sering kali terlalu takut pada perubahan, sementara kamu mungkin terlalu mencintai idemu sendiri. Cara terbaik untuk mendapatkan penilaian jujur adalah dengan meminta masukan dari rekan kerja selevel. Mereka memiliki keahlian yang cukup untuk memahami bidangmu, tetapi tidak memiliki kepentingan pribadi yang bisa membuat penilaian menjadi bias.

Cara Menyampaikan Gagasan agar Diterima Orang Lain

p

Menyampaikan ide baru membutuhkan seni komunikasi agar tidak langsung ditolak. Salah satu teknik yang bisa kamu gunakan adalah efek Sarick. Caranya adalah dengan membuka kelemahan atau risiko ide tersebut di awal pembicaraan. Dengan jujur menunjukkan kekurangan ide, kamu justru terlihat lebih pintar, dapat dipercaya, dan menunjukkan bahwa kamu sudah memikirkan cara mengatasi risikonya.

Selain itu, gunakanlah penawaran Goldilocks. Ide yang terlalu biasa akan dianggap membosankan, sedangkan ide yang terlalu asing akan membuat orang bingung dan menolak. Kamu perlu mencari titik tengah yang cukup menantang cara lama, tetapi tetap terasa masuk akal. Caranya adalah dengan menyisipkan unsur yang sudah dikenal ke dalam gagasan barumu.

Terakhir, jadilah seorang tempered radical atau perombak yang tenang. Daripada menentang aturan lama secara ekstrem yang bisa memicu perlawanan, cobalah menyamarkan gagasan baru ke dalam bentuk yang akrab. Seperti produser film Disney yang mengaitkan alur The Lion King dengan kisah klasik Hamlet, kamu bisa membuat gagasan barumu terasa lebih aman bagi orang lain untuk diterima.

Mengatasi Rasa Takut dan Hambatan Psikologis

Rasa takut dan cemas adalah hal yang manusiawi, bahkan bagi para pemikir besar sekalipun. Alih-alih mencoba menekan rasa takut, kamu bisa menggunakan strategi pesimisme defensif. Dengan membayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi, kamu bisa menyiapkan rencana antisipasi yang lebih matang. Hal ini justru akan membuatmu merasa lebih memegang kendali atas situasi.

Ketika rasa cemas muncul, jangan memaksa diri untuk langsung tenang karena itu bisa membuat tubuhmu kaku. Cobalah mengubah sudut pandang rasa cemas tersebut menjadi rasa bersemangat. Mengarahkan emosi cemas menjadi energi untuk bertindak terbukti dapat meningkatkan performa dalam berbagai situasi.

Di lingkungan organisasi, kamu juga harus waspada terhadap jebakan groupthink atau keseragaman berpikir. Banyak tim yang terjebak dalam budaya "asal kompak" di mana anggota tim memilih diam daripada dianggap merusak suasana rapat. Padahal, keseragaman pandangan justru bisa membahayakan perusahaan karena tidak ada yang berani mengingatkan bahaya baru. Menciptakan budaya di mana kritik terbuka dihargai adalah kunci agar organisasi tetap inovatif.

Mewujudkan perubahan memang menantang, tetapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Kamu bisa mempelajari lebih dalam tentang cara mengelola keraguan dan membangun koalisi pendukung yang solid melalui ringkasan lengkap buku Originals di aplikasi BacaApps. Dapatkan panduan praktis untuk mengubah gagasan unikmu menjadi dampak nyata sekarang juga.

Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: Originals karya Adam Grant

Originals

The book in this post

Adam Grant

"Originals" oleh Adam Grant adalah panduan mendalam tentang bagaimana setiap orang dapat memperjuangkan ide-ide baru yang menantang aturan baku tanpa mempertaruhkan segalanya secara membabi buta. Menepis mitos bahwa perubahan hanya digerakkan oleh sosok pemberani yang nekat, buku ini membongkar psikologi di balik inovasi, mulai dari cara menyaring gagasan berkualitas tinggi, menyuarakan kritik secara strategis, hingga membangun koalisi pendukung yang solid. Membaca karya ini akan membantumu mengelola keraguan dan rasa takut, sehingga kamu lebih percaya diri dalam mewujudkan gagasan unik dan menciptakan dampak nyata di lingkungan kerjamu.

Read the summary