Belajar dari The Madness of Markets: Mengapa Pasar Sering Tidak Logis
Tim BacaApps1 November 2026 5 min read

Pernahkah kamu merasa bingung melihat harga saham yang tiba-tiba melonjak tinggi tanpa ada berita baru yang berarti, atau justru jatuh dalam seketika padahal kondisi perusahaan sebenarnya baik-baik saja? Fenomena ini seringkali membuat investor merasa pasar keuangan tidak masuk akal. Dalam buku The Madness of Markets, Alex Edmans, seorang profesor keuangan dari London Business School, mencoba membongkar misteri di balik kegilaan tersebut.
Melalui buku ini, Edmans menjelaskan bahwa pasar keuangan sering kali tidak bergerak secara logis karena ia digerakkan oleh manusia, bukan oleh robot yang selalu rasional. Manusia memiliki emosi, suasana hati, dan berbagai bias berpikir yang sering kali membuat keputusan keuangan menjadi tidak tepat. Dengan memahami pola-pola ini, kamu bisa belajar cara membaca pasar dengan lebih jernih dan melihat peluang di tengah kekacauan yang terjadi.
Pasar Digerakkan Emosi, Bukan Sekadar Logika
Banyak orang mengira pasar keuangan adalah mesin yang selalu menghitung angka secara presisi. Namun, Edmans menegaskan bahwa pasar sebenarnya digerakkan oleh manusia yang penuh emosi. Karena faktor emosional inilah, muncul pola-pola kesalahan yang terjadi secara sistematis di pasar.
Ada tiga pola utama yang sering muncul akibat perilaku manusia ini:
- Overreaction: Kondisi ketika harga bergerak terlalu jauh dari nilai sebenarnya karena orang-orang sedang panik atau terlalu bersemangat.
- Underreaction: Kondisi ketika harga bergerak terlalu lambat, sehingga fakta penting belum sepenuhnya tercermin pada harga.
- Misreaction: Kondisi ketika pasar salah membaca sebuah informasi sejak awal.
Salah satu bukti nyata bahwa kecerdasan tinggi tidak menjamin seseorang bebas dari kegilaan pasar adalah kisah Sir Isaac Newton. Meskipun ia adalah ilmuwan jenius yang merumuskan hukum gravitasi, Newton tetap terjebak dalam euforia saat membeli saham South Sea Company. Ia sempat untung besar, namun karena terbawa semangat pasar, ia kembali membeli saham tersebut tepat di puncak harga. Ketika harga jatuh, ia kehilangan harta dalam jumlah besar. Kisah ini menjadi pengingat bahwa emosi bisa mengalahkan logika, bahkan bagi orang paling cerdas sekalipun.
Mengenali Bias Psikologis yang Merugikan
Untuk bisa berinvestasi dengan lebih baik, kamu perlu mengenali beberapa bias psikologis yang sering menjebak pikiran kita. Salah satunya adalah narrative fallacy, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih percaya pada cerita yang menarik daripada deretan fakta yang membosankan. Sebuah cerita tentang perusahaan yang katanya akan "mengubah dunia" sering kali terasa jauh lebih meyakinkan daripada laporan keuangan yang rapi, padahal cerita tersebut belum tentu benar.
Selain itu, ada kecenderungan untuk melakukan ekstrapolasi. Ini adalah kebiasaan menganggap tren masa lalu sebagai jaminan untuk masa depan. Jika sebuah harga saham naik terus-menerus, kita cenderung merasa bahwa ia akan terus naik selamanya. Contoh nyatanya adalah kasus saham Zoom pada tahun 2020. Karena tren penggunaan saat pandemi sangat kuat, banyak orang menganggap pertumbuhan itu tidak akan pernah berhenti, padahal pasar sering kali salah dalam memprediksi keberlanjutan sebuah tren.
Ada juga yang disebut recency bias, yaitu kecenderungan kita untuk terlalu fokus pada kejadian terbaru dan melupakan pola jangka panjang yang sebenarnya lebih penting. Kita sering kali merasa bahwa apa yang terjadi kemarin adalah gambaran pasti untuk hari esok, sehingga kita mengabaikan data historis yang lebih luas.
Melihat Peluang di Balik Kesalahan Pasar
Menariknya, kesalahan pasar yang dilakukan oleh banyak orang justru bisa menjadi peluang bagi investor yang mampu melihatnya. Edmans menjelaskan beberapa strategi yang bisa digunakan untuk memanfaatkan ketidaklogisan ini.
Pertama adalah strategi reversal. Strategi ini melihat bahwa saham-saham yang kinerjanya buruk (losers) sering kali sudah dihukum terlalu berat oleh pasar, sehingga harganya jatuh di bawah nilai sebenarnya. Sebaliknya, saham pemenang (winners) sering kali sudah terlalu mahal karena orang terus mengejar cerita suksesnya. Dengan membeli yang terpuruk dan menjual yang terlalu panas, investor berpotensi mendapatkan imbal hasil yang menarik dalam jangka panjang.
Kedua adalah value investing. Ini adalah pendekatan dengan membeli saham saat harganya berada di bawah nilai fundamentalnya. Edmans mencatat bahwa saham value secara konsisten mampu mengungguli saham glamour (saham yang sedang populer) dalam jangka panjang karena investor cenderung mengabaikan perusahaan yang terlihat "membosankan" namun memiliki fundamental kuat.
Ketiga adalah memanfaatkan momentum. Pasar sering kali terlambat dalam menyerap informasi baru. Ada jeda waktu antara munculnya informasi dengan reaksi penuh dari pasar. Jeda inilah yang menciptakan fenomena momentum, di mana saham yang sudah mulai naik cenderung akan terus naik untuk beberapa waktu sebelum akhirnya berbalik arah.
Aset Tak Berwujud yang Sering Terlewatkan
Dalam penilaian tradisional, investor biasanya hanya fokus pada aset berwujud seperti gedung, mesin, atau uang kas. Namun, Edmans mengingatkan bahwa ada aset tak berwujud yang sangat berharga namun sering kali terlambat dihargai oleh pasar: semangat karyawan dan kepercayaan pelanggan.
Budaya kerja yang sehat ternyata memiliki dampak langsung pada keuntungan perusahaan. Sebagai contoh, perusahaan seperti Costco yang membayar pekerjanya lebih baik terbukti memiliki tingkat pergantian karyawan (turnover) yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri. Pekerja yang loyal membawa pengalaman dan pelayanan yang lebih baik, yang pada akhirnya membantu laba perusahaan naik. Investor yang hanya terpaku pada laporan keuangan tradisional mungkin akan melewatkan sinyal penting ini.
Untuk menangkap nilai ini, kamu bisa menggunakan data alternatif seperti ulasan karyawan di platform digital atau skor kepuasan pelanggan. Memahami kekuatan merek dan kualitas manajemen juga menjadi kunci untuk melihat nilai asli sebuah perusahaan sebelum angka-angkanya muncul di laporan laba rugi.
Menjaga Disiplin di Tengah Kegilaan Pasar
Bagian terakhir yang sangat krusial adalah bagaimana kamu menjaga diri agar tidak ikut terseret dalam kegilaan pasar. Salah satu bahaya terbesar adalah overconfidence atau rasa percaya diri berlebih. Ketika seseorang merasa sudah sangat ahli, mereka cenderung mengambil risiko yang terlalu besar tanpa riset yang cukup. Selain itu, ada jebakan herding atau mengikuti kerumunan. Kita sering kali merasa aman hanya karena "semua orang melakukannya," padahal mengikuti kerumunan tanpa dasar yang kuat bisa berujung pada kerugian besar.
Untuk tetap disiplin, Edmans menyarankan beberapa langkah konkret:
- Diversifikasi: Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Memiliki 20 hingga 40 saham dapat membantu mengurangi risiko jika salah satu perusahaan mengalami masalah.
- Rebalancing: Lakukan penyesuaian bobot portofolio secara berkala agar komposisi asetmu tetap sesuai dengan rencana awal.
- Menulis Memo Investasi: Sebelum membeli, tulislah alasan mengapa kamu membeli saham tersebut dan buatlah juga daftar alasan mengapa keputusan itu bisa salah. Ini akan membantumu tetap objektif dan tidak terjebak dalam bias konfirmasi.
Dengan mengelola apa yang bisa kamu kendalikan—seperti biaya, pajak, dan disiplin diri—kamu akan lebih siap menghadapi ketidakpastian pasar.
Memahami psikologi pasar adalah langkah awal untuk menjadi investor yang lebih bijak. Jika kamu ingin memahami seluruh gagasan Alex Edmans secara lebih mendalam dan mendapatkan panduan investasi yang lebih jernih, kamu bisa membaca ringkasan lengkap buku The Madness of Markets di BacaApps.
Baca ringkasan lengkapnya di BacaApps: The Madness of Markets karya Alex Edmans
